BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Rabu, 17 Juni 2009

Tambang Batu Bara Meledak

Wednesday, 17 June 2009
ImageEVAKUASI KORBAN, Warga sekitar menyaksikan proses evakuasi korban ledakan di lokasi tambang batu bara Bukit Bual, Kecamatan Koto Tujuh, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Ledakan ini menewaskan 10 penambang dan 30 lainnya terperangkap di bawah tanah.

PADANG (SI) – Ledakan hebat mengguncang tambang batu bara Bukit Bual,Kec Koto Tujuh,Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat,mengakibatkan 10 orang tewas dan 30 orang lainnya masih terperangkap di bawah tanah. Berdasarkan data Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan Rustam S Pakaya, dari 10 korban tewas,5 di antaranya meninggal di lokasi, 4 tewas di RSU Sawahlunto, dan 1 tewas di Puskesmas Ampalu.

Kecelakaan kerja itu terjadi di kawasan penambangan yang dikelola PT Dasrat yang lokasinya berjarak sekitar 5 km dari Kota Sawahlunto atau sekitar 125 km dari Kota Padang. Dampak ledakan itu tidak saja menimpa para pekerja tambang di dalam lubang, tetapi juga pekerja yang berada di luar. Mereka terkena luka bakar akibat semburan material dan hawa panas api yang keluar dari lubang penambangan.

“Ledakan itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB dan saat itu ada sekitar 35 pekerja dan beberapa pengawas yang masih terperangkap dalam lubang,”kata Ali Munaf, salah seorang pekerja yang selamat. Pekerja lain yang selamat karena berada di luar lubang,Edi,37, menyebutkan, saat kejadian terdengar ledakan keras disertai semburan api dan material dari lubang tambang.

“Kobaran api menimbulkan hawa panas sehingga pekerja yang berada di luar tambang harus tiarap di tanah untuk menyelamatkan diri,” kata Edi yang mengaku saat kejadian berada sekitar 200 meter dari mulut lubang. Menurut dia,api yang berkobar menyembur dari mulut lubang dengan ketinggian mencapai 50 meter.

Akibatnya, pekerja atau warga yang berada di luar lubang tidak luput dari insiden tersebut. Informasi tentang ledakan itu langsung menyebar dan membuat pihak-pihak terkait segera menuju lokasi untuk menyelamatkan para pekerja,terutama yang terperangkap dalam lubang.

Namun, upaya evakuasi terkendala kondisi tempat kejadian yang masih diselimuti asap tebal akibat semburan material tanah dan kekhawatiran pada gas metana yang mudah terbakar. Selain itu, kondisi lubang bawah tanah itu mempunyai banyak jalur sehingga sulit memastikan posisi korban yang terperangkap.

Upaya pencarian dan evakuasi korban dilakukan para pekerja tambang lain yang lebih mengetahui seluk-beluk dalam lubang dan tim search and rescue (SAR) gabungan, termasuk dari PT Tambang Batubara Bukit Asam wilayah Ombilin dan aparat kepolisian. Upaya pencarian di tengah kekhawatiran pada gas metana yang mudah terbakar dan menimbulkan ledakan susulan itu dilakukan dengan sangat hati-hati.

Delapan korban luka yang saat ledakan terjadi berada di luar lubang langsung dievakuasi ke rumah sakit terdekat, RSUD Sawahlunto, untuk mendapat pertolongan medis. Korban itu masing-masing 2 orang mengalami luka berat, 1 orang luka sedang,dan 5 orang luka ringan. Seorang di antara mereka selanjutnya dirujuk ke RSUP M Djamil Padang karena lukanya sangat serius.

Upaya pencarian tim SAR gabungan bersama para pekerja di dalam lubang mulai menemukan para korban yang terperangkap, tetapi dalam kondisi telah meninggal dunia. Sekitar pukul 16.30 WIB, tim SAR gabungan dan kepolisian berhasil mengevakuasi enam korban yang dilaporkan tewas dari dalam lubang.

Kondisi para korban saat dievakuasi dalam kondisi luka bakar berat di sekujur tubuh. Dari pemeriksaan awal, keenam korban tewas teridentifikasi bernama Can, Salman, Hengki, Cau,Baba,dan Ipen.Sekitar pukul 17.00 WIB, tiga korban yang terperangkap dalam lubang kembali ditemukan dalam kondisi tewas, penuh luka bakar.

Dari identifikasi, ketiga korban itu bernama Roi,Anton, dan Nanduk. Satu lagi korban tewas belum diketahui identitasnya. Menurut seorang mantan karyawan PT Tambang Batubara Bukit Asam Indra Yosep, ledakan tambang batu bara yang menelan sejumlah korban jiwa manusia itu diduga akibat arus pendek generator listrik yang digunakan untuk penerangan lampu dan menghidupkan alat untuk membawa batu bara dari dalam lubang.

Kendala Evakuasi

Hingga tadi malam, evakuasi terhadap korban yang terperangkap pada kedalaman puluhan meter di bawah permukaan tanah masih terus dilakukan. Kapolres Sawahlunto AKBP Anum Munarno memastikan 14 korban sudah berhasil dievakuasi. Dari jumlah itu,10 orang tewas dan 4 lainnya menderita luka bakar. Mengenai jumlah penambang yang terkubur,Anum belum bisa memastikan.

“Ada yang bilang 24 orang. Tapi ada juga data yang menyebutkan 32 orang,” ujar Anum kepada naga oetara.com. Anum mengatakan tim gabungan yang diturunkan masih terus bekerja. Namun, sekitar pukul 20.00 WIB tadi malam proses evakuasi terhenti lantaran tim menghadapi kendala dalam menentukan langkah selanjutnya. “Proses evakuasi pada tambang itu agak spesifik.

Ada banyak hal yang dipertimbangkan agar lubang tambang tidak runtuh.Kemudian, ada juga prosedur standar dari Dinas Pertambangan, apakah lubang tambang itu aman untuk dimasuki petugas evakuasi? Jangan sampai pula petugas evakuasi jadi korban selanjutnya,”ujar Ano. Dari hasil penyelidikan, lanjut dia, sementara ini diketahui ledakan terjadi akibat kandungan gas metana di dalam lubang tambang.

Tingginya gas metana yang bercampur CO (karbon monoksida) bisa menimbulkan ledakan fatal bila dipicu percikan api. Bisa api rokok, bisa juga percikan akibat gesekan baling bor dengan batu bara atau gesekan besi dengan besi. “Gas metana itu tak berbau dan tak berasa. Makanya penanganannya sangat spesifik.

Informasi yang kami dapatkan, tambang itu resmi ada izin atas nama PT Dasrat, sebuah perusahaan penambangan batu bara,”ujar Anum. Direktur Teknik dan Lingkungan Ditjen Minerba Pabum Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) MS Marpaung di Jakarta menambahkan, tambang batu bara ini merupakan kuasa pertambangan berjenis underground(bawah tanah).

Menurut Marpaung, untuk sementara operasi tambang tersebut ditutup dan selanjutnya dilakukan penyelidikan. “Kami akan lihat apakah metode penambangan sudah sesuai dengan ketentuan atau tidak. Kami juga akan lihat, apakah ada ventilasi keluarnya gas metana,”ujarnya. Gas metana merupakan gas yang terperangkap di dalam rongga-rongga batu bara. Gas tersebut akan keluar dengan sendirinya kalau sudah berhubungan dengan udara luar. (naga oetara.com)


0 komentar: